Puber, berasal dari kata pubes yang artinya rambut yang tumbuh di sekitar kemaluan Sebagian besar orang menganggap kalau puber itu merupakan masa yang lazim dialami oleh seseorang saat berada dalam masa perkembangan remaja awal. Puber dianggap sebagai salah satu tanda bahwa mereka telah melalui masa anak-anak dan mulai memasuki masa remaja. Istilah ‘puber’ ini juga dipakai dalam masa dewasa, yang lebih sering disebut sebagai ‘puber ke-2’. Kita pasti berpikir, apakah mereka yang sudah berada dalam masa dewasa juga akan kembali menunjukkan ciri-ciri primer dan sekunder yang muncul saat kita memasuki masa remaja? Tidak, disini bukan berarti mereka yang sudah mengalami pubertas di masa remaja lalu akan mengalami perubahan-perubahan fisik yang besar seperti tumbuh kumis dan lain sebagainya melainkan istilah puber ini hanya ingin menggambarkan suatu kondisi dimana seseorang yang berada masa dewasa bertingkah laku layaknya seorang remaja yang masuk dalam masa puber dimana mereka lebih memperhatikan penampilan, melirik lawan jenis, dan lain sebagainya. Para pembaca pun saya yakin pernah melihat atau mungkin sudah mengalaminya, dimana seseorang yang berusia 40 tahun keatas memiliki penampilan berbeda yang kurang ‘sesuai’ dengan usianya. Mereka bergaya eksentrik, atau menunjukkan emosi-emosi labil layaknya seorang anak yang memasuki masa puber. Disinilah, mereka diyakini sedang mengalami puber ke-2.
Saya akan memberikan sedikit contoh agar pembaca lebih jelas mengenai apa itu puber ke-2. Saya akan bercerita mengenai seorang suami yang mengalami puber ke-2 (berinisial X), dia adalah seorang suami sekaligus bapak yang sudah tidak bekerja lagi dikarenakan operasi yang pernah dialaminya sehingga mengharuskan dia untuk tidak bekerja yang membutuhkan fisik yang berat. Sehingga, sekarang yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga adalah istrinya. Di umurnya yang sudah menginjak 50an, si X memiliki banyak keinginan yang kadang-kadang menurut saya tidaklah terlalu penting untuk dipenuhi. Contohnya : dia ingin membeli sebuah Handphone baru dimana Handphone tersebut harus yang sedang trend sekarang. Karena dia tidak memiliki penghasilan, dia meminta uang dari istrinya untuk membeli Handphone tersebut. Pertengkaran kecil di rumah tangga pun tak terelakkan. Si X tetap bersikeras ingin membeli HP tersebut padahal dia sudah memiliki HP, dengan alasan biar ‘sepadan’ dan tidak malu di depan teman-temannya, sedangkan si istri mengganggap daripada uang tersebut untuk membeli HP kan lebih baik menggunakan uang itu untuk belanja kebutuhan perbaikan rumah. Setelah beberapa hari, akhirnya si istri seperti biasanya mengalah dan si X bisa membeli HP baru tersebut. Dari kejadian ini bisa kita lihat sendiri bahwa si X memiliki pikiran seperti seorang remaja yang tidak bisa mempertimbangkan segala sesuatu berdasarkan kepentingan kebutuhannya tetapi lebih menuruti hasratnya. Layaknya seorang remaja yang baru memasuki masa puber si X bertingkah laku berdasarkan lingkungan social dia berada dan menganggap dengan ‘style’ seperti itu maka dia bisa lebih diterima di lingkungan sosialnya itu. Hal-hal seperti ini bisa saja mengakibatkan si istri mengalami suatu depresi karena adanya tekanan dari si X dengan berbagai keinginannya padahal si istri bekerja bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup si X tapi juga anak-anak dan saudara-saudaranya.
Contoh diatas hanya sebagian kecil dari tingkah laku orang dewasa yang berada pada masa puber, masih banyak tingkah laku lain yang ditunjukkan tiap orang, tergantung dari kepribadian si individu itu sendiri. Ciri-ciri umum yang sering kelihatan di masa puber ke-2 khususnya pada pria, antara lain :
Terakhir, masa puber ke-2 bagi saya tidak lebih merupakan suatu masa ‘improvisasi & kreativitas’. Dari masa ini, seseorang bisa meningkatkan produktivitas kerjanya atau malah mempengaruhi perkembangan kejiwaan bagi si individu itu sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu, bagi kita yang belum mengalami masa puber ke-2 , ada baiknya melakukan persiapan yang matang untuk menghadapi masa ‘kritis’ ini. Sehingga kita tidak ‘salah jalan’ dalam menyiasati fenomena psikologis ini. Bagi mereka yang sedang mengalami masa puber ke-2 ini, saya menyarankan untuk lebih berkomunikasi dan berbagi kepada keluarga dan orang-orang terdekat. Sehingga masa puber ini, tidak menjadi suatu penghalang keharmonisan rumah tangganya.
Saya akan memberikan sedikit contoh agar pembaca lebih jelas mengenai apa itu puber ke-2. Saya akan bercerita mengenai seorang suami yang mengalami puber ke-2 (berinisial X), dia adalah seorang suami sekaligus bapak yang sudah tidak bekerja lagi dikarenakan operasi yang pernah dialaminya sehingga mengharuskan dia untuk tidak bekerja yang membutuhkan fisik yang berat. Sehingga, sekarang yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga adalah istrinya. Di umurnya yang sudah menginjak 50an, si X memiliki banyak keinginan yang kadang-kadang menurut saya tidaklah terlalu penting untuk dipenuhi. Contohnya : dia ingin membeli sebuah Handphone baru dimana Handphone tersebut harus yang sedang trend sekarang. Karena dia tidak memiliki penghasilan, dia meminta uang dari istrinya untuk membeli Handphone tersebut. Pertengkaran kecil di rumah tangga pun tak terelakkan. Si X tetap bersikeras ingin membeli HP tersebut padahal dia sudah memiliki HP, dengan alasan biar ‘sepadan’ dan tidak malu di depan teman-temannya, sedangkan si istri mengganggap daripada uang tersebut untuk membeli HP kan lebih baik menggunakan uang itu untuk belanja kebutuhan perbaikan rumah. Setelah beberapa hari, akhirnya si istri seperti biasanya mengalah dan si X bisa membeli HP baru tersebut. Dari kejadian ini bisa kita lihat sendiri bahwa si X memiliki pikiran seperti seorang remaja yang tidak bisa mempertimbangkan segala sesuatu berdasarkan kepentingan kebutuhannya tetapi lebih menuruti hasratnya. Layaknya seorang remaja yang baru memasuki masa puber si X bertingkah laku berdasarkan lingkungan social dia berada dan menganggap dengan ‘style’ seperti itu maka dia bisa lebih diterima di lingkungan sosialnya itu. Hal-hal seperti ini bisa saja mengakibatkan si istri mengalami suatu depresi karena adanya tekanan dari si X dengan berbagai keinginannya padahal si istri bekerja bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup si X tapi juga anak-anak dan saudara-saudaranya.
Contoh diatas hanya sebagian kecil dari tingkah laku orang dewasa yang berada pada masa puber, masih banyak tingkah laku lain yang ditunjukkan tiap orang, tergantung dari kepribadian si individu itu sendiri. Ciri-ciri umum yang sering kelihatan di masa puber ke-2 khususnya pada pria, antara lain :
- Enggan terlihat tua. Mereka mulai memperhatikan penampilannya mulai dari mengecat hitam rambutnya yang sudah terlihat memutih, memakai pakaian yang modis, memodifikasi kendaraan, dan lain sebagainya.
- Meningkatnya jiwa petualang. Mereka mulai memiliki jiwa ‘muda’ yang haus akan tantangan, mungkin salah satunya yang berlebihan bisa berakibat pada perselingkuhan. ·
- Berpikiran layaknya seorang remaja awal. Mereka kebanyakan tidak menunjukkan sisi dewasa mereka yang penuh dengan tindakan bijaksana tetapi menunjukkan sifat kekanak-kanakan ( seperti contoh si X diatas )
- perasaan emosi yang labil atau sensitif. Hal ini bisa dikarenakan terganggu atau berhentinya proses menstruasi, yang bisa berpengaruh pada psikologis mereka. Karena adanya pikiran takut tidak ‘mampu’ lagi berhubungan seksual yang nikmat dengan pasangannya.
Terakhir, masa puber ke-2 bagi saya tidak lebih merupakan suatu masa ‘improvisasi & kreativitas’. Dari masa ini, seseorang bisa meningkatkan produktivitas kerjanya atau malah mempengaruhi perkembangan kejiwaan bagi si individu itu sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu, bagi kita yang belum mengalami masa puber ke-2 , ada baiknya melakukan persiapan yang matang untuk menghadapi masa ‘kritis’ ini. Sehingga kita tidak ‘salah jalan’ dalam menyiasati fenomena psikologis ini. Bagi mereka yang sedang mengalami masa puber ke-2 ini, saya menyarankan untuk lebih berkomunikasi dan berbagi kepada keluarga dan orang-orang terdekat. Sehingga masa puber ini, tidak menjadi suatu penghalang keharmonisan rumah tangganya.
